Majalah penerbangan Vliegwered (Dunia Penerbangan) mencatat secara rinci armada GIA (Garuda Indonesian Airways) saat awal pembentukan dan operasionalnya.

Vliegwered terbit sekali seminggu, secara umum membahas teknologi dirgantara di dunia, namun tidak lupa mengangkat lebih rinci berita dan artikel dari Belanda, termasuk juga koloni terbesarnya, Hindia Belanda di mana pada tahun 1950 telah resmi mendapatkan pengakuan kedaulatan menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat).

Vliegwered edisi No.4 Januari 1951 membahas tentang AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) dan GIA (Garuda Indonesian Airways).

Pada edisi No.4 Januari 1951, Vliegwered membahas perkembangan armada GIA yang aslinya merupakan pengambil alihan armada KLM IIB (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij Interinsulair Bedrijf), telah menerima delapan unit Convair 240. Pesawat penumpang berkapasitas 32 orang ini resmi memperkuat GIA sejak bulan September 1950, diterbangkan langsung dari Amerika Serikat (Baca: Kedatangan Convair CV-240 di Kemayoran). Yang menarik dalam artikel itu disebutkan pula secara detail nosename masing-masing pesawat yang diambil dari nama burung.

Vliegwered edisi No.29 Maret 1951 pada berita kolom, armada GIA dibahas lebih rinci termasuk armada pesawat amfibi Catalina.

Sedangkan pada edisi berikutnya, No. 29 Maret 1951, walaupun bukan dalam artikel penuh melainkan berupa berita kolom, armada GIA semakin diperjelas lagi, meliputi delapan Convair 240, Douglas DC-3 Dakota buatan Canadair sebanyak 10 unit (minus PK-DPB yang crash di Surabaya setahun yang lalu), C-47A Dakota versi kargo sebanyak 12 unit, dan delapan pesawat amfibi Catalina dengan rincian tiga unit buatan Consolidated (PBY) dan lima unit buatan Convair (CV28-5ACF). Kedelapan Catalina ini diberi nosename yang diambil dari nama pulau di Indonesia. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)