Setelah berhasil meluncurkan satelit Palapa B4, Indonesia secara resmi memiliki total tiga satelit dari seri Palapa B di orbit GSO (GeoStasiOner) pada awal tahun 1990-an.

Sebelumnya Indonesia telah memiliki Palapa A1 dan A2 atau Hughes Satellite HS-333 (Baca: SKSD Palapa : Lewat Komunikasi Persatukan Indonesia) yang masing-masing diluncurkan dengan roket Delta 2914 buatan McDonnell Douglas pada tahun 1976 dan 1977. Satelit telekomunikasi pionir dengan berat sekitar setengah ton ini hanya memiliki 12 transponder, di mana satu transponder setara dengan 800-1.000 saluran telepon atau satu saluran televisi berwarna. Palapa A1 dan A2 masing-masing purna tugas pada tahun 1985 dan 1988.

Penggantinya adalah seri Palapa B atau Hughes HS-376 yang sudah memiliki 24 transponder dan berbobot dua kali lipat dari seri Palapa A. Palapa B1 diluncurkan menggunakan space shuttle Challenger pada tahun 1983 dan berakhir penugasannya tujuh tahun kemudian. Berikutnya B2 gagal ditempatkan pada orbitnya pada tahun 1984 tapi berhasil diambil, diperbaiki, dan diluncurkan ulang pada tahun 1990 sebagai Palapa B2R.

Satelit Palapa A (HS-333) dan B (HS-376) memiliki desain yang sama, namun ada perbedaan bobot dan teknologi yang dipakai sehingga umur pakai meningkat sekaligus jangkauan operasionalnya.

Roket Delta memiliki tiga tingkat sebagai wahana pelontar satelit Palapa A1/A2 dan Palapa B2P, B2R, dan B4, sedangkan B1 dan B2 dilontarkan ke orbit dengan space shuttle. 

Sebelum peluncuran ulang Palapa B2R, ada Palapa B2P yang berhasil ditempatkan di orbit pada tahun 1987, bukan dengan space shuttle, melainkan kembali menggunakan roket Delta tepatnya dari versi berikutnya, Delta II 6925. Terakhir tentu saja Palapa B4 yang meluncur lima tahun kemudian. Berbeda dengan seri Palapa A yang murni pengadaannya oleh negara lewat Perumtel (Perusahaan Umum Telekomunikasi), seri Palapa B dilakukan oleh PT (Perseroan Terbatas) Telkom—Telekomunikasi Indonesia, pengembangan dari Perumtel yang menjadi perusahaan BUMN/Badan Usaha Milik Negara—dengan menggandeng investor swasta.

Sebagai satelit terakhir dari seri Palapa B, Palapa B4 dirancang memiliki umur operasional lebih panjang dari B1, B2P, dan B2R. Roket yang dipakai juga dari versi terbaru, Delta II 7925 dengan daya dorong lebih kuat dari Delta II 6925. Mungkin karena tergolong anyar, peluncuran Palapa B4 sempat tertunda beberapa kali akibat masalah teknis. Peluncuran dengan roket tiga tingkat ini mulanya dijadwalkan pada tanggal 7 Mei (waktu Florida, Amerika Serikat), diundur jadi tanggal 10 Mei, lalu berikutnya tanggal 12 Mei.

Jadwal diundur kembali karena harus mengurus misi space shuttle Endeavour. Akhirnya proyek Palapa B4 senilai lebih dari US$130 juta yang meliputi US$56,3 juta untuk satelit,US$ 47,7 juta untuk peluncuran, dan sisanya asuransi, berakhir dengan manis. Peluncuran dan penempatan Palapa B4 pada orbitnya terealisasi pada tanggal 14 Mei, tepat 30 tahun yang lalu.

Roket Delta awalnya merupakan roket balistik Thor-Delta, lantas dikembangkan menjadi roket pembawa satelit dan probe. Delta 2000-series dan Delta II (6000-series dan 7000-series) masing-masing merupakan roket pelontar satelit Palapa A dan B.

Teknisi Hughes menginspeksi komponen-komponen satelit Palapa B4 (HS-376). Secara keseluruhan satelit ini berbobot sekitar 1,2 ton dan memiliki 24 transponder.

Dengan adanya tiga seri Palapa B yaitu B2P, B2R, dan B4 di ketinggian 35,88 km, total Indonesia lewat Telkom memiliki 72 transponder yang dapat dipakai untuk kebutuhan sendiri atau disewakan. Tampak banyak, namun melihat tren persaingan di Asia Pasifik merupakan hal yang wajar saja. Malaysia bersiap meluncurkan satelit HS-376 yang dinamakan MEASAT (Malaysian-East Asian Satellite), diluncurkan dengan roket Ariane buatan Perancis. Thailand lewat perusahaan Shinawatra juga akan meluncurkan satelit HS-376. Sedangkan perusahaan patungan Inggris dan Hongkong telah memiliki HS-376 yang diberi nama AsiaSaT (Asia Satellite Telecommunication)-1 sejak tahun 1990. Masih ditambah perusahaan asal Korea Selatan, Kamboja, Vietnam, Filipina, dan Australia. Sepertinya hampir semua negara di kawasan ini berancang-ancang memiliki satelit sendiri, tidak hanya untuk tujuan telekomunikasi dalam bentuk suara, data, dan video, namun juga untuk layanan jaringan tv kabel.

Sama seperti Palapa A1/A2, seri Palapa B juga berakhir, digantikan oleh seri Palapa C dan D yang masing-masing diluncurkan pada tahun 1996 dan 2009 oleh PT. Satelindo/Indosat (Satelit Indonesia/Indonesia Satellite). Palapa B2P purna tugas pada tahun 1996 setelah tiga tahun sebelumnya beralih kepemilikan dari Telkom ke Satelindo. Palapa B2R dipensiunkan pada tahun 2000, sedangkan Palapa B4 mengakhiri fungsinya pada tahun 2005, atau setelah 13 tahun lamanya bertugas. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)