Garuda Indonesia menampilkan iklan dua halaman yang cukup unik di Majalah Angkasa No. 10 Juli 1995.

Disebut unik karena beda dengan sebelumnya yang menampilkan armada, layanan terbang, atau rute, iklan ini justru mempromosikan budaya dan masyarakat Indonesia yang berasal lebih dari 300 grup etnis dan tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Yang dimaksud empat benua adalah layanan penerbangan Garuda Indonesia yang menjelajah di benua Asia, Australia, Amerika, dan Eropa.

Dalam iklan juga disebutkan nama kota-kota mancanegara di Eropa yaitu Paris dan Wina. Patut dicatat pada saat itu Garuda Indonesia ikut dalam persaingan layanan penerbangan ke dua kota terkenal di Eropa yang kaya akan budaya klasik sekaligus kontemporer. Selain itu untuk tujuan Eropa, Garuda Indonesia tentunya terbang ke Amsterdam, sedangkan lainnya meliputi pula Roma, Madrid, Munich, Zurich, Frankfrut, dan London. Seluruhnya dilayani oleh pesawat badan lebar, salah satu andalannya adalah tipe Boeing 747 termasuk series -400 yang baru saja diterima setahun yang lalu (Baca: 23 Tahun Kiprah Boeing 747-400 Garuda Indonesia).
Wajah-Kami-di-Empat-Benua-1
Khusus untuk rute ke Paris, Garuda Indonesia bersaing ketat dengan maskapai kelas dunia: KLM, Lufthansa, British Airways, dan pastinya Air France. Sebanyak empat kali seminggu rute Jakarta-Paris, (singgah di Bangkok dan Abu Dhabi) dilayani, sementara Paris-Jakarta sebanyak tiga kali seminggu (hanya singgah di Bangkok). Sebagai catatan Paris memang bukan rute tujuan akhir melainkan bagian dari rute Jakarta-Amsterdam pp.

Untuk rute ini, Garuda Indonesia gencar berpromosi, salah satunya dengan menggandeng lembaga kesenian asal Paris, Trans Inter, Telerama, dan Musique. Garuda Indonesia bahkan dengan berani menampangkan tagline Paris-Java-Bali pada poster pertunjukan seni Indonesia yang biasanya didominasi pertunjukan opera. Hasilnya? Rute Jakarta-Paris pp. ini diklaim sangat baik dengan load factor rata-rata mencapai 85% pada saat peak season (bulan April, Juli, Agustus, dan Desember), sedangkan low season sekitar 65%. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)