Tanggal 17 November, tiga puluh tahun yang lalu, General Dynamics sebagai produsen pesawat tempur F-16 Fighting Falcon memberikan penghargaan “The Best Military Aircraft Coproduction” kepada IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara).

Penghargaan ini diserahkan langsung kepada Direktur Utama IPTN Bacharudin Jusuf Habibie, yang juga merangkap sebagai menristek (menteri ristek dan teknologi) oleh Wakil Presiden Program F-16 Dain M. Hancock. General Dynamics sangat puas atas kinerja IPTN sebagai sub-kontraktor suku cadang/komponen F-16 dan memenuhi tiga syarat yang diberikan: harga kompetitif yang menguntungkan bagi kedua pihak, memenuhi jadwal yang ditentukan, dan kualitas produk yang sangat tinggi.

Khusus untuk kualitas yang dihasilkan IPTN, Dain atas nama General Dynamics yang berlokasi di Fort Worth, Texas memberikan pujian khusus bahwa komponen yang dihasilkan telah dievaluasi dengan tingkatan (rate) hijau atau sangat memuaskan. Komponen-komponen yang dibuat IPTN meliputi wing flaperon, weapon pylon, fuel pylon, main landing gear doors, forward engine access doors, dan graphite epoxy vertical fin skins.

Penghargaan-General-Dynamics-Kepada-IPTN-1Wakil Presiden Program F-16 Dain M. Hancock (kanan) secara langsung memberikan penghargaan “The Best Military Aircraft Coproduction” dari General Dynamics kepada Direktur Utama IPTN Bacharudin Jusuf Habibie.

Dari nama komponennya saja sebagian besar merupakan material komposit yang membutuhkan proses manufaktur khusus dan alat-alat produksi kualitas teknologi tinggi dan presisi. IPTN patut bangga karena investasi besar-besaran untuk menghasilkan komponen pesawat tempur mutakhir seperti Fighting Falcon sangat setimpal dengan hasil yang diraih.

Pada akhir 1980-an, lewat Proyek Bima Sena, TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) memilih Fighting Falcon sebagai bagian dari modernisasi alutsista (alat utama sistem senjata). Sebanyak 12 unit versi A/B yang menjadi kekuatan Skadron 3 dengan total harga mencapai US$105 juta, diberikan offset produksi komponen sebesar 35% kepada IPTN, atau setara dengan US$17,7 juta. Kontrak produksi ditandatangani pada tahun 1986 dan pengiriman komponen dimulai dua tahun kemudian.

Selama empat tahun, General Dynamics memberikan penilaian perbaikan kualitas komponen meningkat sampai 95% sehingga patut diberikan penghargaan spesial. Saat penghargaan diberikan, IPTN sudah mengirim komponen senilai hampir US$5,5 juta atau sekitar sepertiganya dari nilai kontrak dan akan memenuhi seluruhnya pada tahun 1994.

Penghargaan-General-Dynamics-Kepada-IPTN-2Komponen Fighting Falcon yang diproduksi IPTN, sebagian besar merupakan material komposit yang membutuhkan proses manufaktur khusus dan alat-alat produksi kualitas teknologi tinggi dan presisi.

Fighting Falcon merupakan pesawat tempur generasi IV buatan General Dynamics yang paling laku di dunia, dan sejak tahun 1993, produksinya diambil alih oleh Lockheed Co./Lockheed Martin. General Dynamics berharap rencana Indonesia membeli tambahan Fighting Falcon sebagai regenerasi pesawat tempur generasi III, Northrop F-5E/F Tiger II benar-benar terlaksana, namun karena pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) di Timor Leste dan krisis ekonomi tahun 1997/1998 membatalkan itu semua.

Pengadaan tambahan Fighting Falcon dimulai lagi lewat hibah versi C/D saat pemerintahan Presiden Barrack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan mulai diterima pada tahun 2014. Total saat ini ada tiga skadron berkekuatan Fighting Falcon, Skadron 3, Skadron 14, dan Skadron 16. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)