De Havilland Canada DHC-5B Buffalo pernah ditawarkan ke Indonesia pada tahun 1970-an seperti iklan yang dimuat di Majalah Angkasa No.4 Tahun 1974.

Pada tahun itu, Indonesia masih mengandalkan pesawat bermesin piston Douglas C-47/DC-3 Dakota sebagai pesawat angkut dan penumpang. TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) walaupun sudah memiliki pesawat angkut modern Lockheed C-130B Hercules, masih mengoperasikan Dakota yang telah uzur sebagai kekuatan angkut taktis. Buffalo dapat dianggap sebagai pengganti Dakota yang ideal, dengan kemampuan STOL (Short Take Off & Landing) dan roda pendaratan kokoh, sangat cocok untuk operasional di daerah pedalaman Indonesia yang memiliki lapangan terbang sederhana.

Seperti yang tercetak di iklan, Indoplano atau Indonesian Planning Office merupakan agen resmi de Havilland Canada di Indonesia. Tidak hanya menjual Buffalo melainkan juga tipe pesawat lainnya dari pabrik yang sama yaitu DHC-2 Beaver, DHC-3 Otter, DHC-4 Caribou, DHC-6 Twin Otter, dan DHC-7 Quiet STOL Airliner atau lebih terkenal sebagai Dash Seven. Perusahaan ini sebenarnya bukan distributor pesawat atau bergelut di bidang industri penerbangan, melainkan perusahaan sekaligus manufaktur alat-alat tulis! Berdiri pada tahun 1952, Indoplano memproduksi potlot alias pensil agar Indonesia tidak perlu mengimpor lagi. Berikutnya Indoplano memproduksi kertas termasuk variannya seperti amplop, karton, dan kantong kertas, dan masih eksis hingga kini.

Sebenarnya sah-sah saja perusahaan dari latar belakang apapun ikut berkompetisi asalkan memenuhi syarat tender, namun Buffalo menghadapi pesaing kuat dari Belanda yaitu Fokker F27 yang telah dioperasikan GIA (Garuda Indonesian Airways) dan Pelita Air Service. Alhasil Buffalo masuk kotak. Target penjualan ke TNI-AU gagal karena memilih Fokker F27 dan mulai memperkuat Skadron 2 pada tahun 1976.

DHC-5B-Buffalo-Indoplano-1

Nama Buffalo kembali mencuat dalam pemberitaan media sekitar dua puluh tahun kemudian saat IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) membeli lima unit Buffalo bekas milik Uni Emirat Arab agar dapat menjual CN235. Skema tukar guling kontroversial karena pesawat baru ditukar dengan pesawat lama, apalagi Buffalo ini sudah lama tidak diterbangkan dan terpapar panasnya gurun. IPTN lantas merekondisi pesawat agar laik terbang dan diserahkan kepada Puspenerbad (Pusat Penerbangan Angkatan Darat) dan Puspenerbal (Pusat Penerbangan Angkatan Laut) pada tahun 1997, masing-masing tiga unit dan dua unit.

Sebenarnya kedua instansi ini lebih menyukai pengadaan CN235, walaupun performanya tidak sebaik Buffalo, namun merupakan pesawat baru, lebih modern, dan pastinya dukungan suku cadang dari IPTN. Sedangkan suku cadang Buffalo selain harus diimpor, harganya mahal dan langka karena sudah tutup produksi. Tapi apa daya menghadapi kekuasaan Orde Baru, apalagi Bacharudin Jusuf Habibie yang merupakan direktur utama IPTN, naik jabatan menjadi wakil presiden yang sebelumnya menjadi menristek (menteri ristek dan teknologi).

Hasilnya bisa ditebak, pasca Orde Reformasi pengoperasian Buffalo baik di Puspernerbad dan Puspernerbal tidak mulus dan banyak masalah teknis sehingga jarang diterbangkan, tapi setidaknya tidak ada yang mengalami kecelakaan. Pesawat yang sanggup mengangkut sampai 40 pasukan ini akhirnya dipensiunkan pada tahun 2009. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)