Menjelang tahun 1980, TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) melakukan penambahan dan modernisasi alutsista (alat utama sistem senjata), termasuk pembelian Lockheed L-100-30 Super Hercules.

Sebelumnya TNI-AU telah memiliki satu skudron Lockheed C-130 Hercules tapi ini dari versi B, diterima pada tahun 1960. Hampir tiga puluh tahun kemudian, TNI-AU mengakusisi versi pengembangannya, Super Hercules dengan kontrak pembelian ditandatangani pada bulan Februari 1978.

Pesawat pesanan pertama ini direncanakan digunakan sebagai pesawat angkut VIP (Very Important Person) sekaligus sebagai pesawat komando. Untuk membedakannya dengan Hercules lain, Menhankam (Menteri Pertahanan dan Keamanan) Jenderal M. Yusuf yang mengusulkan pembelian pesawat ini memberikan registrasi khusus A-1314, di mana angka-angka tersebut bila dijumlahkan menghasilkan angka sembilan alias angka keberuntungan.

A-1314-Jemput-2
Rombongan TNI-AU yang diutus belajar dan membawa Super Hercules ke Indonesia, dari kiri ke kanan, Mayor Penerbang (Pnb) Paryanto, Kapten (Pnb) Hari Priyadi, Kapten (Pnb) Bachrudin, Letnan Kolonel (Pnb) Yusman Tahar (Komandan Skuadron Angkut 31), Peltu (Pembantu Letnan Satu) Sukandar, Kapten TPT Gunawan, dan instruktur dari Lockheed, Roy Reynold.

Pada tanggal 7 Maret 1979, Kopatdara (Komando Paduan Tempur Udara) memberangkatkan dua grup kru pesawat berjumlah enam orang yang berasal dari Skuadron Angkut 31 menuju pabrik Lockheed, Marietta, Amerika Serikat dari Jakarta. Keenam orang itu adalah Mayor Penerbang (Pnb) Paryanto, Letnan Kolonel (Pnb) Yusman Tahar, Kapten (Pnb) Hari Priyadi, Kapten (Pnb) Bachrudin,  Kapten TPT Gunawan, dan Peltu (Pembantu Letnan Satu) Sukandar, mereka berangkat menggunakan pesawat milik maskapai Cathay Pacific menuju Singapura, Hongkong, dan Tokyo. Dari Jepang rombongan melanjutkan perjalanan ke Chicago lalu dari sana berlanjut ke Atlanta, Georgia. Rombongan ini diantar dengan mobil menuju kota Marietta.

Di kota inilah keenam calon kru Super Hercules TNI-AU belajar selama 1,5 bulan dan dimulai pada tanggal 11 Maret dengan mengikuti pelajaran ground school. Pelajaran ini berlangsung selama tiga minggu, dari pukul 08.00 s/d 16.00 dengan istirahat makan siang. Cukup padat karena waktunya sangat singkat. Walaupun demikian karena sudah berpengalaman mengoperasikan dan menerbangkan Hercules tidak terlalu sulit karena dasarnya kurang lebih sama.

Setelah ground school, barulah mereka belajar terbang (flight training). Meskipun menerbangkan Hercules adalah “makanan sehari-hari” namun ada perbedaan yang harus diperhatikan antara versi B dengan L-100-30. Perbedaan yang menyolok itu adalah TOG (Take Off Gross Weight) yang lebih berat dari versi B mencapai 155.000 lbs (70 ton), badan pesawat lebih panjang 4,5 meter (15 kaki), radar lebih canggih, dan sistem navigasi INS (Inertial Navigation System).

Untuk sistem INS, mereka kagum karena memang baru kali itu merasakan kehebatan alat navigasi ini. Super Hercules dapat terbang menuju tempat atau posisi yang dikehendaki secara akurat tanpa membutuhkan navigator lagi. Kru penerbang cukup memasukan data-data koordinat dari setiap check point meliputi arah (track), jarak (distance), waktu (time), dan posisi (position) ke dalam sistem INS.

Setelah latihan terbang tanpa mengalami hambatan, barulah mereka mempersiapkan diri untuk membawa Super Hercules dari Amerika Serikat menuju Indonesia pada tanggal 16 April. Sehari sebelumnya rombongan mendapatkan kejutan, dikunjungi langsung oleh Panglima Kopatdara Marsda (Marsekal Muda) Aried Riyadi dan istrinya. Sebagai pimpinan mereka, Aried Riyadi bahkan tidak sekedar berkunjung namun memberikan Surat Keputusan Kenaikan Pangkat satu tingkat kepada Harry Priyadi menjadi Mayor. Hal yang unik karena dilantik di Amerika Serikat dan saat dinas ke luar negeri pula.

Setelah melaksanakan upacara penandatanganan penyerahan pesawat oleh pihak Lockheed keada atase pertahanan Indonesia, mereka lepas landas dari Dobbins AFB (Air Force Base), Marietta, Georgia. Selain keenam orang tersebut, Super Hercules A-1314 membawa sembilan orang penumpang, enam kru tambahan asal Indonesia, pilot pendamping dari Lockheed, dan teknisi dari Lockheed yang membawa istrinya.

Tujuan penerbangan hari pertama adalah menuju Travis AFB selama tujuh jam sembilan menit penerbangan. Setelah menginap sehari, perjalanan udara ini dilanjutkan menuju Hickham AFB di Honolulu selama sembilan jam delapan menit. Di Hawaii ini rombongan menginap selama dua hari sebelum berangkat lagi menuju Wake Island hanya untuk mengisi bahan bakar sebelum terbang ke Anderson AFB, Guam. Total 12 jam rute tempuh Hickam-Anderson dan mereka menginap semalam untuk bersiap menuju Ujung Pandang (Makassar).

Pada tanggal 21 April, Super Hercules A-1314 tiba di Indonesia tepatnya di Bandara Hasanudin, Ujung Pandang setelah menempuh perjalanan lima hari dari Amerika Serikat. Di sini mereka disambut langsung oleh Jenderal M. Yusuf dan KSAU (Kepala Staf Angkatan Udara) Ashadi Tjahjadi dan pejabat TNI lainnya.

Setelah inspeksi singkat dan mengisi bahan bakar, Super Hercules kembali lepas landas menuju pangkalannya, Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Mereka disambut secara resmi oleh pejabat TNI-AU yaitu Asisten Operasi Marsda Rusman dan Kepala Staf Kopatdara Marsma (Marsekal Pertama) Pribadi. Tidak ketinggalan sambutan hangat diberikan oleh keluarga kru rombongan A-1314 yang ditinggalkan hampir dua bulan lamanya untuk tugas ke luar negeri ini.

A-1314-Jemput-3
L-100-30 Super Hercules A-1314 yang menjadi kekuatan Skadron 17 Angkut VIP, masih terus digunakan walaupun sudah dioperasikan selama hampir 40 tahun.

A-1314 awalnya dimasukkan dan menjadi bagian dari Skadron Angkut 31 Linud (Lintas Udara) Kopatdara. Berdasarkan pertimbangan fungsionalnya maka pesawat ini nantinya menjadi kekuatan Skadron 17 Angkut VIP yang berkedudukan di pangkalan yang sama. Sebagai pengguna pertama atau penerbangan perdana di Indonesia, A-1314 justru digunakan oleh Ketua Umum Dharma Pertiwi Nyonya M. Yusuf dan rombongannya terbang menuju ke Yogyakarta. Penerbangan kedua baru dilakukan oleh Jenderal M. Yusuf saat kunjungan kerja ke Surabaya.

Sedangkan penerbangan ketiga A-1314 adalah sebagai pesawat kepresidenan, mengantar Presiden Soeharto, Ibu Tien, Jenderal M. Yusuf, Marsekal Ashadi Tjahjadi ke Waingapu dalam rangka peninjauan ke daerah yang terkena bencana alam tsunami di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 12 Mei 1979. Saat ini A-1314 masih dioperasikan TNI-AU bersama-sama “saudaranya” A-1341 yang memiliki fungsi serupa, pesawat komando dan angkut VIP. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)