MNA (Merpati Nusantara Airlines) sempat mengoperasikan dua unit Lockheed L-100-30 (Hercules versi sipil) untuk melayani penerbangan reguler domestik, namun sayangnya tidak sukses.

Praktis Hercules milik MNA beregistrasi PK-MLT (eks Pelita Air Service, PK-PLT “Pangkalan Brandan”) menjadi yang pertama di dunia dikonversi menjadi pesawat penumpang. Sebagai catatan Pelita Air Service memiliki dan mengoperasikan Hercules untuk proyek transmigrasi yang gencar dilakukan pada tahun 1980-an (Baca:Hercules untuk Transmigrasi). Konversi dari pesawat angkut menjadi pesawat penumpang membutuhkan modifikasi yang meliputi penguatan struktur, sistem listrik, AC (Air Conditioning), hidrolik, serta peredam suara dan getaran. Seluruh proses ini berakibat penambahan berat sekitar enam ton sehingga total menjadi 26 ton dengan daya angkut tersisa 14 ton atau sebanyak 97 penumpang dengan bagasi seberat 10 ton.

Naik turun penumpang di Hercules milik MNA menggunakan pintu samping, sedangkan bagasi dimuat lewat pintu kargo di belakang pesawat.

MNA menunjuk IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) untuk melaksanakan konversi ini. IPTN lantas mengirim Hercules tersebut ke pabrik Lockheed AeroMod Center Inc. dan Foster Edward Aircraft sebagai perusahaan yang dipercaya dan disertifikasi untuk hal itu. Awal bulan Januari 1988, Hercules berangkat menuju Amerika Serikat dan diharapkan proses konversi dan modifikasi akan selesai selama 273 hari. Rencana tinggal rencana, malah molor dan baru diserahkan kepada MNA pada tanggal 7 Agustus 1990. Segera pesawat ini dipakai untuk melayani rute Jakarta-Banjarmasin-Ujung Pandang (Makassar) tiga kali seminggu.

Secara fisik tampak dari luar, Hercules milik MNA memiliki 22 jendela di mana aslinya hanya enam dengan empat pintu darurat. Perbedaan lainnya tentu dari kabin penumpang yang mirip dengan pesawat badan sempit Douglas DC-9 dengan kursi berkonfigurasi 3-3. Berikutnya MNA memodifikasi Hercules lainnya, PK-MLS (eks PK-PLS “Rimbo Bujang”) yang dilakukan tidak di Amerika Serikat lagi melainkan di IPTN dan selesai pada akhir tahun 1991.

Interior Hercules milik MNA mirip dengan Douglas DC-9, konfigurasi kursi 3-3, dan overhead bin. Namun kebisingannya masih lumayan terasa. Logo Garuda Indonesia terpasang di kursi penumpang karena MNA saat itu masih menjadi bagian dari Garuda Indonesia sebelum benar-benar mandiri pada tahun 1996.

Kedua Hercules versi penumpang milik MNA berhasil meruntuhkan keseraman sang legenda yang identik sebagai pesawat angkut militer, sekaligus membuktikan bahwa Sang Putra Dewa ini mampu melaksanakan tugas apa saja. Namun kalau boleh jujur, konversi dan modifikasi Hercules ini dapat dianggap gagal, tidak ada maskapai lain yang mengikuti jejak MNA. Dari sisi kenyamanan masih kalah dengan DC-9, kurang cepat dan masih terasa bising, dengan biaya operasional lebih mahal. Tidak heran MNA hanya mengoperasikan kedua Hercules dalam periode singkat dengan layanan terakhir rute Bandung-Palembang-Batam pada tahun 1994. 

Setahun kemudian, kedua Hercules ini diserahkan kepada TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara). Seluruh konversi dan modifikasi dilepas dan dikembalikan fungsinya sebagai pesawat angkut, serta registrasinya berubah menjadi A-1325 (PK-MLS) dan A-1326 (PK-MLT). Dari dua unit Hercules hasil hibah MNA ini, hanya satu yang tersisa karena A-1325 jatuh di Magetan, Jawa Timur pada tanggal 20 Mei 2009. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)