Akhir tahun 1979, TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) baru saja memiliki pesawat angkut baru, Lockheed C-130HS Hercules yang dilengkapi alat navigasi canggih, INS (Inertial Navigation System).

Dari segi bentuk dan dimensi, versi H ini tidak jauh berbeda dengan versi B yang sudah dimiliki sejak tahun 1960. Bedanya avioniknya lebih canggih sehingga meringankan beban kerja kru pilotnya. Selain versi H, pada waktu yang bersamaan, TNI-AU juga membeli L-100-30, Hercules yang memiliki badan lebih panjang sekitar 4,5 meter dan sama canggihnya dengan versi H (Baca : Menjemput Super Hercules A-1314 dari Amerika Serikat).

Salah sistem canggih yang dimiliki Hercules versi H ini adalah alat navigasi INS. Alat ini dipasang di kokpit antara pilot dan kopilot, digunakan untuk menemukan titik sasaran dengan sangat presisi dengan kecil kemungkinan meleset. Tidak heran INS menjadi alat bantu navigasi yang efektif dan efisien di pesawat terbang. Untuk pesawat tempur atau pembom, INS menjadi andalan untuk misi pemboman sedangkan untuk pesawat angkut digunakan buat misi penerjunan baik pasukan maupun barang ke suatu wilayah.

INS-Hercules-4
Pada akhir tahun 1970-an sebagai bagian dari Renstra (Rencana Strategis) I, TNI-AU membeli Hercules versi H (C-130HS) untuk mendampingi versi B.

INS adalah alat navigasi yang kecil dan kompak, menggunakan sensor gerak (accelerometers) dan sensor rotasi (gyroscopes), dapat digunakan secara mandiri tanpa tergantung pada ground station dengan daerah operasi di garis ekuator sampai ke kutub. Untuk operasi militer, karena sifatnya yang mandiri, alat navigasi sangat ideal karena  anti jammed. 

Walaupun canggih namun INS masih terdapat kekurangan, membuat kesalahan sejauh sekitar satu nm (nautic mile) atau hampir dua km setiap jam terbang, sehingga disamping INS dibutuhkan peta topografi sebagai alat pengecekan posisi pesawat setelah satu jam terbang. Jadi jika terbang lebih dari jam, harus dilakukan koreksi.

Selain itu kru wajib memasukan data-data ke alat INS ini saat pesawat masih di darat selama maksimal 17 menit. Pesawat tidak boleh bergerak bahkan satu cm sekalipun karena gerakan pesawat akan mempengaruhi sensor rotasi. Jika pada awalnya saja sensor ini terletak pada posisi yang salah maka arah perjalanan atau penerbangan itu akan keliru.

INS-Hercules-2
Sistem navigasi canggih dengan keakuratan tinggi, INS pada Hercules versi H ditempatkan di kokpit antara pilot dan kopilot. 

Untuk menguji kehebatan INS ini maka Koptadara (Komando Paduan Tempur Udara) pada awal bulan Maret 1980 mengadakan tiga uji operasi penerjunan dengan C-130HS di daerah-daerah yang berbeda yaitu penerjunan pasukan Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) di Sukabumi, penerjunan persenjataan berat di Kalijati, dan penerjunan logistik makanan di dua tempat, daerah transmigrasi Astra Ksetra, Lampung dan Sorolangun, Jambi.

Benar saja, uji operasi penerjunan di keempat titik sasaran itu berlangsung dengan sukses, semuanya tepat 100% dijatuhkan di tempat yang dikehendaki. Hal ini penting bila operasi militer dilaksanakan dan daerah yang dituju belum dikenal atau diterjunkan pada malam hari, maka INS sangat membantu menerbangkan pesawat ke tempat sasaran. Karena kehebatan dan keakuratannya ini tidak heran Panglima Koptadara, Marsma (Marsekal Muda) Aried Riyadi menjuluki INS sebagai “Profesor”.

Sebagai catatan khusus, untuk uji penerjunan logistik makanan ke Lampung dan Jambi ini, masyarakat setempat tidak diberitahu sebelumnya. TNI-AU sengaja memberikan kejutan kepada mereka dan pastinya akan kaget menerima “hadiah dari langit” ini berupa makanan siap santap yang biasa dimakan personel TNI.

INS-Hercules-3Sebelum terbang, kru wajib memasukan data-data ke dalam sistem komputer INS dan membutuhkan waktu maksimal 17 menit.

Sebagai ucapan salam, di paket yang diterjunkan itu Aried Riyadi menempelkan sepucuk surat yang isinya :

Pemberitahuan

1. Pada hari ini Rabu tanggal 5 Maret 1980, Koptadara TNI-AU mengadakan latihan penerjunan barang dengan pesawat C-130 H  Hercules dengan Inertial Navigation System di daerah Astra Ksetra/Lampung dan Sorolangun/Jambi.
2. Kepada masyarakat setempat yang menemukan barang dan payung dari latihan ini mohon :
a. Untuk barang yang berupa makanan dapat dinikmati bersama dengan masyarakat setempat.
b. Untuk payung/parasut dapat dipergunakan untuk keperluan bersama masyarakat setempat sebagai kenang-kenangan, misalnya untuk tenda pertemuan.
3. Terima kasih.

Panglima Komando Paduan Tempur Udara
Cap dan Tanda Tangan

Aried Riyadi
Marsekal Muda TNI

 

Jadi siapa bilang bahwa teriakan bocah-bocah kampung saat pesawat melintas untuk minta makanan dari “om pilot” hanya sebuah impian polos anak kecil ? TNI-AU justru pernah mewujudkan impian tersebut ! (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)