Berdasarkan penelitian dari Departemen Perhubungan Udara, AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia), GIA (Garuda Indonesian Airways), dan tim dari KOPELAPIP bahwa tahun 1967 saja setidaknya Indonesia membutuhkan 130 unit Fokker F27 untuk menggantikan armada Dakota, Convairliner (Convair 240/340/440), dan Avia Il-14. Untuk 10 tahun ke depan, diperkirakan membutuhkan 200 unit Fokker F27, dan ini masih untuk kebutuhan domestik.

Angka 130 unit itu cukup masuk akal mengingat walaupun awal tahun 1960-an GIA telah memiliki armada Lockheed L188 Electra dan pesawat komersial jet Convair 990A, tapi tulang punggung layanan domestik adalah Dakota dan Convairliner dengan jumlah 40-an unit. Setali tiga uang dengan GIA, AURI yang telah memiliki armada Lockheed C-130 Hercules, masih mengandalkan Dakota dan Avia yang jumlahnya kurang lebih serupa dengan armada domestik GIA. Belum lagi operator lainnya seperti MNA (Merpati Nusantara Airlines) dan maskapai charter pertambangan yang total butuh 10-20 unit pesawat sekelas Fokker F27.

KOPELAPIP-A-Roadmap-5Grafik Estimated Fleet Replacement for Domestic Air Traffic, berapa unit kebutuhan Fokker F27 untuk menggantikan armada Dakota, Convairliner, Avia dalam kurun waktu 10 tahun.

KOPELAPIP-A-Roadmap-6Grafik GIA Domestic Air Traffic Development menunjukan tren kenaikan (dalam satuan million ton-km) dari tahun ke tahun sepanjang periode 1960-1972. Tanpa peremajaan armada, GIA tidak bisa memenuhi traffic demand itu.

Dengan mengambil contoh GIA sebagai pemegang monopoli penerbangan komersial di Indonesia, berdasarkan perhitungan kebutuhan lalu lintas penerbangan (traffic demand) pastinya flag carrier kebanggaan Indonesia ini tidak sanggup memenuhi bila masih mengandalkan armada lama. Angka 50 million ton-km pada tahun 1964 saja tidak tercapai dan akan terus menurun, kecuali jika menggunakan armada Fokker F27 yang bisa menyamainya pada tahun 1969 yaitu di angka 85-88 million ton-km.

Patut dicatat bahwa traffic demand ini masih merupakan tren normal. Jika KOPELAPIP sudah dilaksanakan yaitu dengan menjalankan perdagangan agroindustrinya untuk mendukung produksi Fokker F27 dan melibatkan GIA sebagai pelaksana angkut kargo hasil perkebunan dan pertanian, pastinya angka tren ini lebih tinggi dari sebelumnya.

KOPELAPIP-A-Roadmap-7
Empat kategori produksi KOPELAPIP, terdiri atas CAT B, CAT C, CAT D, dan CAT E (Detail Manufacturing).

Sebagai proyek lisensi, produksi Fokker F27 di Indonesia dilaksanakan dalam empat kategori, yaitu :

  • CAT B (Category B), atau main assembly, mengimpor Fokker F27 dalam bentuk harus dirakit terlebih dahulu, pemasangan bagian-bagian sayap, badan, ekor, mesin, roda pendarat, dll. hingga selesai menjadi pesawat terbang.
  • CAT C (Category C), atau sub assembly, pemasangan dari unit-unit yang lebih kecil menjadi sayap, badan, dll lalu dilakukan main assembly menjadi pesawat terbang.
  • CAT D (Catagory D), di sini elemen yang lebih kecil lagi dipasang untuk membentuk sub assembly lalu dilakukan main assembly menjadi pesawat terbang.
  • CAT E/Detail Manufacturing, atau tahap kemandirian, setiap bagian/unit/elemen dari CAT D, CAT C, dan CAT D dibuat sendiri dari bahan mentah (raw material)

Untuk CAT B dilakukan pada periode tahun 1967-1969, pabrik di Sunter masih dalam tahap pembangunan jadi cukup menggunakan salah satu hanggar yang ada di Bandara Internasional Kemayoran. Baru pada tahun 1970, KOPELAPIP melakukan CAT C di hall produksi yang telah berdiri. Total 17 unit Fokker F27 diproduksi selama Tahap Pertama ini.

KOPELAPIP-A-Roadmap-8KOPELAPIP-A-Roadmap-9Dua tahap yang dilakukan KOPELAPIP dalam kurun waktu delapan tahun dengan target 75 unit pesawat diproduksi dan total investasi mencapai lebih dari 400 juta Nf./Nederland florin (US$ 100 juta).

Tahap Kedua lebih kompleks, tapi pastinya fasilitas dan hall produksi sudah dibangun keseluruhan untuk mendukung lanjutan CAT C dan tahap berikutnya CAT D yang dilakukan periode tahun 1971-1973. Periode 1974-1975 merupakan tahap kemandirian Indonesia, targetnya sebanyak 30 unit Fokker F27 Made in Indonesia diproduksi untuk kebutuhan industri penerbangan nasional. Tahap terakhir ini saja memungkinkan tidak hanya Fokker F27 tapi pesawat komuter sekelasnya bisa dibuat secara mandiri di Indonesia.

Sebagai catatan walaupun teknologinya tergolong konvensional dan dapat diikuti oleh ahli dan tenaga kerja Indonesia, Fokker F27 memiliki aspek teknologi maju pada eranya yaitu mengurangi penggunaan paku keling (rivet) dan digantikan dengan teknologi metal to metal bonding, artinya kulit alumunium dipasang (dilekatkan) dengan bantuan lem khusus sehingga licin dan aerodinamis. Karena itulah pada CAT E periode tahun 1974-1975, KOPELAPIP akan memasang autoclave berukuran raksasa (seukuran badan pesawat) untuk proses produksi bonding ini.