Selain membeli pesawat tempur dan helikopter baru, TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) juga membeli perangkat sistem radar dari produsen asal Perancis, Thomson CSF/Compagnie Générale de Télégraphie Sans Fil (sekarang bernama Thales Group).

Sebagai alat pengawas wilayah udara Indonesia yang sangat luas, TNI-AU merasakan pentingnya radar generasi baru. Pada tahun 1970-an, Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) masih mengandalkan radar generasi pertama dan kedua dari tipe Decca asal Inggris dan Nyasa asal Polandia. Walaupun andal namun radar tipe lama yang dimiliki TNI-AU pada tahun 1960-an tersebut hanya menampilkan informasi target 2D (jarak dan ketinggian) dengan jarak deteksi mencapai 200-300 km.

Berdasarkan Restra (Rencana Strategis) II, TNI-AU menandatangani pembelian dua unit radar Thomson CSF tepatnya dari tipe TRS-2215 pada bulan November 1981. Pesanan sistem radar ini tiba di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta pada tanggal 17 Maret 1982 atau 40 tahun yang lalu, diangkut Boeing 747-200 milik Air France Cargo.

Pada tanggal 17 Maret 1982, perangkat sistem radar Thomson CSF tiba di Jakarta dari Perancis, diangkut dengan menggunakan Boeing 747-200 milik Air France Cargo.

Thomson TRS-2215 bersifat mobile, dimuat dalam trailer khusus untuk dimasukkan ke dalam pesawat angkut Hercules.

TNI-AU mengirim dua unit sistem radar Thomson TRS-2215, untuk ditempatkan di Ranai dan Iswahyudi dari Halim Perdanakusuma dengan menggunakan pesawat angkut Hercules.

Radar Thomson TRS-2215 sedang dipersiapkan untuk digelar di Iswahyudi, Madiun yang menjadi pangkalan armada pesawat tempur TNI-AU.

Radar Thomson TRS-2215 yang telah operasional penuh di Ranai, mengawasi kawasan Indonesia bagian Barat dan Laut Cina Selatan.

Suasana ruang operator radar Thomson. Panel-panel operasionalnya tampak kuno bila dibandingkan pada saat ini, namun terbilang canggih pada tahun 1980-an.

Seorang perwira TNI-AU sedang mem-plot pergerakan target di ruang udara Selat Malaka, Aceh, dan Sumatra Utara. Pekerjaan ini dilaksanakan bersama-sama dengan operator radar Thomson.

Perwira dan operator radar Thomson TNI-AU sedang melaksanakan latihan simulasi GCI di Iswahyudi, Madiun.

Rencananya, radar berkemampuan deteksi target 3D (bearing, range, altitude/arah kecepatan, jarak, dan ketinggian) sekaligus memiliki teknologi elektronika EWS (Early Warning System) dan GCI (Ground Control Interceptor) generasi keempat ini ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Ranai, Pulau Natuna untuk mengawasi wilayah perbatasan Indonesia bagian Barat khususnya di Laut Cina Selatan.

Unit lainnya dipasang di Pangkalan Angkatan Udara Iswahyudi, Madiun yang merupakan pangkalan pesawat tempur TNI-AU dari tipe Northrop F-5E/F Tiger II dan Douglas A-4E/F Skyhawk. Thomson TRS-2215 dengan kemampuan deteksi maksimal hampir 500 km tergolong radar yang mobile, dengan mudah dapat dipindahkan dengan menggunakan pesawat angkut Lockheed C-130H Hercules dan disiapkan dalam satu jam oleh teknisi terlatih.

Berikutnya TNI-AU juga membeli radar Thomson tipe TRS-2230 pada akhir tahun 1980-an, namun berbeda dengan sebelumnya, tipe ini tidak mobile alias statis. Radar Thomson tergolong populer, selain Perancis dan Indonesia, negara lainnya seperti India, Brazil, dan Tunisia juga mengandalkannya. Walaupun tergolong teknologi lama, berkat peningkatan kemampuan pada sistem elektronik dan komputernya, radar Thomson sudah diintegrasi penuh ke dalam Popunas (Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional)-Kohanudnas. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)