Fairey Gannet merupakan tipe pesawat pertama yang dimiliki ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) dan dioperasikan pada tahun 1960 untuk tugas ASW (Anti Submarine Warfare). Gannet adalah salah satu contoh pesawat dengan desain mengutamakan fungsi daripada estetika.

ALRI membeli 18 unit (dua di antaranya versi latih) Fairey Gannet dari Inggris yang merupakan rekondisi eks Royal Navy. Dengan bentuknya yang tambun ini memungkinkan Gannet melaksanakan tugas patroli laut sekaligus fungsi anti kapal dan anti kapal selam. Di dalam perutnya dapat membawa bom bawah laut (depth charge) dan torpedo.

Sempat menimbulkan kontroversi sendiri karena Belanda mengecam Inggris (sebagai sesama anggota NATO/North Atlantic Treaty Organization) atas penjualan pesawat ini, apalagi mengingat saat itu sedang hangat-hangatnya Kampanye Trikora dan Gannet memang dipersiapkan untuk melawan pendudukan Belanda di Papua.

Fairey Gannet AS-00 di Museum Satria Mandala, klik gambar untuk lebih detail.

 

Selain Trikora, Gannet juga dikerahkan untuk Kampanye Dwikora, tugasnya mengamankan dan mengawasi alur laut Indonesia khususnya kapal-kapal perang milik Inggris dan Australia yang merupakan sekutu Malaysia. Akibat Dwikora pula, suku cadang Gannet diembargo sehingga tidak bisa terbang lagi pada akhir tahun 1960-an.

Setelah ALRI berubah nama menjadi TNI-AL (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut) pada tahun 1970-an, tugas Gannet digantikan oleh helikopter Westland Wasp (Baca : Westland Wasp, Tawon Penghancur Kapal Selam Andalan Dispenerbal). Gannet yang ada dihancurkan (scrap) sebagai besi tua, lainnya diabadikan menjadi tugu dan museum, contohnya di Museum Satria Mandala memiliki Gannet bernomor AS 00, menjadi satu-satunya pesawat milik TNI-AL, dan telah menjadi koleksi museum sejak tahun 1974. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)